Kamis, 12 Juni 2014

Penjualan Rumah Tipe Kecil Menurun Di Medan

MEDAN - Pada triwulan I tahun 2014, penjualan rumah tipe kecil hanya tumbuh 0,13 persen,  menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat 1,3 persen. Bahkan rumah tipe kecil ini sebagai  penyumbang terbesar menurunnya volume penjualan rumah secara keseluruhan mencapai 3,1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumut-Aceh Difi A Johansyah kepada wartawan di Medan kemarin mengatakan penurunan penjualan rumah tipe kecil di Medan ini berbanding terbalik dengan nasional yang tercata sebesar 1,3 persen.
Ia menyebut penjualan rumah tipe kecil menurun hingga 13,74 persen karena selain kenaikan harga, juga menurunnya pertumbuhan disebabkan terbatasnya persediaan rumah dan lahan. Hal ini juga tergambar dari jumlah pembangunan rumah tipe kecil yang menurun hingga 14,9 persen pada triwulan laporan.
Searah dengan nasional, jelasnya, harga properti residensial di Kota Medan terus meningkat meski mengalami perlambatan. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakuakn terhada 30 pengembang proyek perumahan (developer) yang menjadi anggota Real Estate Indonesia (REI) Sumut mencatat rata-rata harga properti di Kota Medan pada triwulan I 2014 tumbuh sebesar 0,33 persen,
lebih rendah dibanding triwulan IV 2013 yang mencatat pertumbuhan 0,57 persen. Peningkatan harga tersebut lebih rendah dibandingkan nasional yang mencatat pertumbuhan hingga 1,45 persen pada triwulan I 2014.
Pertumbuhan harga properti residensial tertinggi terjadi pada rumah tipe besar yang mencapai 0,47 persen, diikuti rumah tipe menengah yang mencapai 0,37 persen. Rumah tipe besar dan menengah ini menunjukkan kecenderungan peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing tumbuh sebesar 0,16 persen dan 0,26 persen pada triwulan I 2014, meski mengalami perlambatan dibandingkan dengan tiwulan sebelumnya.
Pertumbuhan KPR pada triwulan I 2014 mencapai 0,26 persen (qtq) dari Rp12,85 triliun pada Desember 2013 menjadi Rp12,89 triliun pada Maret 2014. Pertumbuhan outstanding KPR tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan KPR pada triwulan sebelumnya yang sebesar 3,16 persen (qtq) dari Rp12,46 triliun pada September 2013 menjadi Rp12,85 triliun pada Desember 2013.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi Sumut kepada Berita Senin (2/6) mengatakan Kebijakan menaikkan uang muka untuk kredit KPR menekan permintaan kredit di sektor properti tersebut. Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM di tahun 2013 lalu, secara langsung mengakibatkan kenaikan pada harga bangunan maupun jasa tukang. Inflasi disini yang menjadi masalah mendasar sehingga BI rate harus dinaikkan.
Ditengah kondisi tersebut, kata Gunawan, BI justru menempuh menaikkan kebijakan uang muka untuk pembelian Rumah. Jelas, meskipun sejumlah lembaga pembiayaan mampu mengakali besaran DP kepada konsumen, akan tetapi beban bunga yang tinggi tetap akan menahan permintaan kredit KPR tersebut.
Ini sesuai dengan skenario BI, dimana kredit yang sangat berpeluang tinggi macetnya harus diperlambat. Bayangkan saja, bila LTV tidak dinaikkan dan bunga pinjaman turun. Permintaan KPR akan mengalami lonjakan meskipun di SUMUT sendiri sejumlah regulasi terkait tata ruang masih banyak bermasalah.
Praktis memang pelemahan permintaan karena ada pendekatan yang dilakukan oleh BI untuk mengendalikannya. Bila mengacu kepada besaran indeks harga properti residensial di kota medan sebesar 205.91, maka harga rumah telah mengalami kenaikan dua kali lipat lebih sejak tahun 2002 bila mengacu kepada harga dasar indeks di tahun 2002.”Kredit sektor perumahan perlu di waspadai. Meskipun sejauh ini saya menilai belum masuk pada kondisi bubble,” katanya.
Menurutnya, ada banyak spekulan disini yang membuat harga rumah kerap mengalami lonjakan. Motif investasi di sektor properti yang terkadang membuat sektor ini rawan macet. Kenaikan BI rate dari 5,75 persen menjadi 7,5 persen dalam waktu singkat mengancam daya beli masyarakat. Inflasi yang menggerus daya beli harus dibebankan ke masyarakat yang justru mendapat  beban tambahan cicilan KPR karena kenaikan bunga. Jadi klop, potensi macetnya besar. ( beritasore.com)