MEDAN - Pada triwulan I tahun 2014, penjualan rumah tipe kecil hanya
tumbuh 0,13 persen, menurun dibanding
triwulan sebelumnya yang tercatat 1,3 persen. Bahkan rumah tipe kecil ini
sebagai penyumbang terbesar menurunnya
volume penjualan rumah secara keseluruhan mencapai 3,1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumut-Aceh Difi A
Johansyah kepada wartawan di Medan kemarin mengatakan penurunan penjualan rumah
tipe kecil di Medan ini berbanding terbalik dengan nasional yang tercata
sebesar 1,3 persen.
Ia menyebut penjualan rumah tipe kecil menurun hingga 13,74 persen karena
selain kenaikan harga, juga menurunnya pertumbuhan disebabkan terbatasnya
persediaan rumah dan lahan. Hal ini juga tergambar dari jumlah pembangunan
rumah tipe kecil yang menurun hingga 14,9 persen pada triwulan laporan.
Searah dengan nasional, jelasnya, harga properti residensial di Kota
Medan terus meningkat meski mengalami perlambatan. Survei Harga Properti
Residensial (SHPR) yang dilakuakn terhada 30 pengembang proyek perumahan
(developer) yang menjadi anggota Real Estate Indonesia (REI) Sumut mencatat
rata-rata harga properti di Kota Medan pada triwulan I 2014 tumbuh sebesar 0,33
persen,
lebih rendah dibanding triwulan IV 2013 yang mencatat pertumbuhan 0,57
persen. Peningkatan harga tersebut lebih rendah dibandingkan nasional yang
mencatat pertumbuhan hingga 1,45 persen pada triwulan I 2014.
Pertumbuhan harga properti residensial tertinggi terjadi pada rumah tipe
besar yang mencapai 0,47 persen, diikuti rumah tipe menengah yang mencapai 0,37
persen. Rumah tipe besar dan menengah ini menunjukkan kecenderungan peningkatan
pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing tumbuh sebesar
0,16 persen dan 0,26 persen pada triwulan I 2014, meski mengalami perlambatan
dibandingkan dengan tiwulan sebelumnya.
Pertumbuhan KPR pada triwulan I 2014 mencapai 0,26 persen (qtq) dari
Rp12,85 triliun pada Desember 2013 menjadi Rp12,89 triliun pada Maret 2014.
Pertumbuhan outstanding KPR tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan KPR
pada triwulan sebelumnya yang sebesar 3,16 persen (qtq) dari Rp12,46 triliun
pada September 2013 menjadi Rp12,85 triliun pada Desember 2013.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi Sumut kepada Berita Senin (2/6)
mengatakan Kebijakan menaikkan uang muka untuk kredit KPR menekan permintaan
kredit di sektor properti tersebut. Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga
BBM di tahun 2013 lalu, secara langsung mengakibatkan kenaikan pada harga
bangunan maupun jasa tukang. Inflasi disini yang menjadi masalah mendasar
sehingga BI rate harus dinaikkan.
Ditengah kondisi tersebut, kata Gunawan, BI justru menempuh menaikkan
kebijakan uang muka untuk pembelian Rumah. Jelas, meskipun sejumlah lembaga
pembiayaan mampu mengakali besaran DP kepada konsumen, akan tetapi beban bunga
yang tinggi tetap akan menahan permintaan kredit KPR tersebut.
Ini sesuai dengan skenario BI, dimana kredit yang sangat berpeluang
tinggi macetnya harus diperlambat. Bayangkan saja, bila LTV tidak dinaikkan dan
bunga pinjaman turun. Permintaan KPR akan mengalami lonjakan meskipun di SUMUT
sendiri sejumlah regulasi terkait tata ruang masih banyak bermasalah.
Praktis memang pelemahan permintaan karena ada pendekatan yang dilakukan
oleh BI untuk mengendalikannya. Bila mengacu kepada besaran indeks harga
properti residensial di kota medan sebesar 205.91, maka harga rumah telah
mengalami kenaikan dua kali lipat lebih sejak tahun 2002 bila mengacu kepada
harga dasar indeks di tahun 2002.”Kredit sektor perumahan perlu di waspadai.
Meskipun sejauh ini saya menilai belum masuk pada kondisi bubble,” katanya.
Menurutnya, ada banyak spekulan disini yang membuat harga rumah kerap
mengalami lonjakan. Motif investasi di sektor properti yang terkadang membuat
sektor ini rawan macet. Kenaikan BI rate dari 5,75 persen menjadi 7,5 persen
dalam waktu singkat mengancam daya beli masyarakat. Inflasi yang menggerus daya
beli harus dibebankan ke masyarakat yang justru mendapat beban tambahan cicilan KPR karena kenaikan
bunga. Jadi klop, potensi macetnya besar. ( beritasore.com)
